Sunday, January 1, 2012

6 Penyakit yang Bangkit dari Kematian...

Pes (Plague) 
Wabah Black Death melanda Eropa pada tahun 1348. Hanya lima tahun kemudian, sepertiga dari penduduk benua itu—50 juta orang—tewas. Dan meski pes tampaknya merupakan penyakit masa lampau—masa di mana seorang penderita diobati dengan metode pengurasan darah (bloodletting) dan tuam bawang putih, bawang merah dan mentega namun kehadirannya masih ada hingga saat ini.

Wabah pes bisa dengan cepat menyerang beberapa ratus orang sebelum bisa dihentikan. Para peneliti kini mencoba mereka-reka mengapa penyakit ini begitu berbahaya di Abad Pertengahan, dan mengapa bisa bangkit kembali dan mengancam manusia jaman sekarang.

Untuk menjawab bagian pertama dari pertanyaan ini, para ilmuwan dari McMaster University di Hamilton, Ontario, baru-baru ini mengurai genome dari bakteria yang menimbulkan wabah Black Death tersebut. Mereka mengebor tisu gigi lunak (soft tooth) dari empat orang korban yang berhasil sembuh dari wabah Black Death yang menimpa London di kompleks pemakaman yang bernama East Smithfield, dan mendapatkan fragmen DNA yang cukup untuk memetakan full genome dari penyakit pembunuh tersebut untuk sebuah penelitian dalam Nature.

Apa yang mereka temukan adalah sesuatu yang sangat aneh. Wabah pes modern, meski tetap mengerikan, namun tidak separah yang ada dalam Black Death, para peneliti memperkirakan pes modern memperlihatkan perubahan yang signifikan dalam hal DNA jika dibandingkan dengan versi kunonya. Namun demikian, pes jaman sekarang sangat berbeda dari nenek moyangnya beberapa abad lalu. Faktor-faktor yang memungkinkan mengapa wabah pes abad pertengahan begitu berbahaya adalah termasuk kondisi kesehatan lingkungan pada jaman itu, dan mungkin penduduk jaman itu secara genetik mempunyai kecenderungan lebih sensitif terhadap penyakit tersebut. Akan tetapi co-author dari penelitian tersebut Kirsten Bos mengatakan, hingga sekarang ini, para ilmuwan tidak memiliki gambaran yang lengkap. “Kami tidak bisa menjelaskan mengapa terjadi bencana kematian yang demikian besar seperti itu.”

Pes utamanya ditularkan kepada manusia melalui kutu yang terdapat pada hewan pengerat (rodent). Wabah pes jaman modern telah terjadi di California, New Mexico, dan Colorado, yang disebarkan oleh tikus putih (white rodent). Hot spot lain bagi penyebaran wabah pes modern termasuk negara-negara Amerika Selatan seperti Equador dan Peru, dan sebagian Eropa dan Asia.

Kebanyakan dari wabah pes ini berbentuk wabah pes bubonic plague—jenis yang menyebabkan kelenjar getah bening (lymph nodes) membengkak secara mengerikan. Karena mudah diobati dengan antibiotik, pes jenis ini jarang menyebabkan kematian. Tapi jenis pes yang lain—septecemic, yang menginfeksi darah, dan pnemonic, yang menyerang paru-paru—lebih berbahaya. Pes pnemonic (pnemonic plague) menyebar dari manusia ke manusia, dan menyerang demikian cepat sehingga pasien bisa tewas sebelum obat antibiotk sempat beraksi. Kalau tidak diobati cepat-cepat, kematian akibat pes pnemonic bisa mencapai 100 persen. “Jika Anda mengalami wabah pes pnemonic, maka ini berarti khabar buruk bagi semua masyarakat,” kata Juan Olano, M.D., seorang ahli penyakit menular di Universitas Texas.

Sejauh ini pihak penguasa bisa mencegah timbulnya wabah pes ini. Namun beberapa penyakit lain tidak berhasil diatasi.

Leptospirosis  

Pada tahun 2000, 304 orang laki-laki dan wanita yang dalam keadaan kesehatan yang prima mendarat di Malaysia untuk melakukan petualangan yang kemudian akan menjadi sebuah petualangan yang akan mereka kenang seumur hidup mereka. Mereka melakukan trekking memasuki hutan dan pegunungan, dan menelusuri sungai-sungai sebagai bagian dari apa yang mereka sebut petualangan Tantangan Alam (Echo Challenge), sebuah perlombaan petualangan selama beberapa hari yang disebut-sebut sebagai perlombaan ketahanan tubuh yang paling keras di dunia. Dan ketika mereka menaiki pesawat untuk kembali ke negara masing-masing, 29 di antara mereka secara tidak disadari membawa bakteria berbahaya yang dinamakan Leptospira, dan menjadi sakit secara misterius ketika mereka tiba di rumah mereka masing-masing.

Leptospira terdapat pada banyak spesies hewan mamalia. Bakteria ini memasuki sumber-sumber air melalui urin hewan yang terinfeksi, dan bisa mengenai manusia apabila mereka meminum air yang terkena infeksi tersebut, atau bisa pula masuk ke tubuh melaui luka—sesuatu yang sering terjadi pada atlit yang petualang seperti di Malaysia tersebut. Para atlit yang terkena infeksi tersebut dimasukkan ke rumah sakit karena mengalami demam, nausea, dan muntah-muntah sebelum dokter mengetahui apa yang terjadi pada mereka; untungnya, tidak ada satu pun di antara mereka yang tewas. Namun wabahnya, terus menyebar ke seluruh dunia—di AS, penyakit ini biasanya timbul pada orang yang baru saja melakukan perjalanan.

Penyakit berpindah secepat perindahan orang yang membawanya. Seiring dengan semakin mengglobalnya pergaulan kita, maka kita memberi kesempatan bagi kuman penyakit untuk berkembang: Kuman-kuman tersebut bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan kecepatan seperti kecepatan pesawat jet. “Anda bisa melakukan perjalanan dari London ke New York dan membawa infeksi dalam tubuh Anda secara tidak Anda sadari,” kata David Heymann, kepala Badan Perlindungan Kesehatan Inggris.

Tubuh manusia bukanlah satu-satunya media perpindahan bacteria penyebab infeksi. “Nyamuk bisa menyebarkan infeksi ke seluruh dunia,” kata Heymann, sedemikian hebatnya cara nyamuk menyebar penyakit sehingga timbul istilah “Airport Malaria” (istilah untuk nyamuk penyebar penyakit yang numpang dalam pesawat terbang). Ketika nyamuk-nyamuk tersebut turun dari pesawat di bandara yang lain, mereka bisa menginfeksi seseorang yang belum pernah pergi ke luar negeri sekalipun, kata Heymann, dan leptospirosis dan malaria bukanlah satu-satunya penyakit yang semakin berbahaya karena gaya hidup manusia yang berpindah-pindah secara global.

Demam Berdarah (Dengue Fever) 
Pada tahun 1960-an, petugas kesehatan mengira mereka sudah bisa bernafas dengan lega. Melalui upaya-upaya pengendalian nyamuk, mereka hampir berhasil membasmi demam berdarah (dengue fever), sebuah penyakit akibat virus yang ditemukan di wilayah tropis. Secara tiba-tiba pada tahun 1970-an, penyakit ini muncul kembali. Wabahnya mulai berkembang di sekitar Amerika Latin, dan menjadi semakin buruk. Pada tahun 1998, timbul pandemi demam berdarah (dengue fever) dan pasangannya yang jauh lebih berbahaya, yaitu demam berdarah dengue (dengue hemorrhagic fever). Lebih dari sejuta kasus dilaporkan pada 56 negara; sekarang, lebih dari 100 juta kasus terjadi setiap tahunnya.

Kebanyakan orang yang menderita demam berdarah tidak mengalami gejala apa-apa. Virus-virus tersebut hanya menggunakan mereka sebagai perantara (carrier). Ketika pada akhirnya penyakit tersebut menyerang, mulanya adalah seperti sebuah demam (fever) yang mendadak, seringkali lencapai 104, 105 derajat F. dua hingga lima hari kemudian, timbul bintik-bintik merah, disertai sakit kepala, fatigue, muntah-muntah, dan nyeri sendi serta otot. Kebanyakan penderita penyakit ini bisa sembuh, namun sejumlah kecil demam berdarah berkembang menjadi menjadi demam berdarah dengue. Yang mula-mulanya adalah demam berdarah, labu berkembang menjadi fase shock, yang telah menewaskan separuh dari penderitanya. Tidak ada obat bagi demam berdarah (dengue fever), dan tidak ada vaksin untuk mencegahnya.

Dengue pada awalnya merupakan penyakit di wilayah-wilayah miskin, kata Heymann. Tapi di India, sebagai contoh, penyakit ini menjadi penyakit kelas menengah ketika nyamuk berkembang biak di dalam sistem pendingin ruangan yang terdapat di rumah-rumah penduduk, sehingga menimbulkan wabah besar. “Di mana saja ada nyamuk yang bisa membawa penyakit, maka mereka akan menyebarkannya,” kata Heymann. Dan era perjalanan lewat udara ini berarti bahwa jangkauan penyakit-penyakit seperti dengue kian meluas. “Mengikuti proses perkembangan dengue hingga menyebar ke seluruh dunia adalah sesuatu yang menarik,” kata Heymann.

TBC (Tuberculosis) 
Tuberculosis telah ribuan tahun menjadi momok bagi kemanusiaan. Para ahli mengira bahkan orang Mesir kuno pun pernah menderita penyakit ini, jika dinilai dari ketidaknormalan tulang belulang yang ditemukan pada mumi-mumi tertentu. TBC adalah infeksi bakteri pada paru-paru yang ditularkan melalui batuk atau bersin (sneeze) dari orang yang telah terinfeksi. Pada satu ketika dalam sejarah, penyakit ini pernah disebut consumption karena menyebabkan tubuh si penderita melemah (waste away). Penyakit ini menyebar secara tak disadari di tempat-tempat di mana lingkungan tidak terjaga sanitasinya, seperti di dalam rumah petak (tenement). Pada peralihan abad ke-20, TBC merupakan penyebab utama kematian di AS. Dan ketika kondisi lingkungan membaik, penyakit TBC menyerah. Tetapi tidak selamanya.

Ketika AIDS merebak dengan dahsyatnya di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, TBC tiba-tiba muncul kembali. Ini terjadi karena AIDS menyerang sistem kekebalan tubuh, yang dengan demikian menciptakan peluang bagi TBC. “AIDS merajalela selama tahun 80-an dan 90-an,” kata Olano. “Para pasien sekarat di sana sini, pengobatan mahal dan tidak mudah didapat, dan tuberculosis tumbuh dengan keadaan yang demikian.”

Karena efek membonceng (piggybacking effect ) ini, sekarang TB menjadi sebuah masalah besar di Afrika sub-Sahara, di mana AIDS telah membunuh 1,3 juta orang pada tahun 2009 saja. Ahli CDC Dr. Philip LoBue mengatakan bahwa di beberapa bagian negara-negara Afrika sub-Sahara, adalah hal yang biasa jika 50 hingga 60 persen penderita TBC juga menderita AIDS.

Dan TBC kini muncul kembali, virus penyakit ini juga telah mendapat resistensi antibiotika. Mengobati TBC adalah sebuah upaya yang lama dan rumit, di mana para penderitanya diharuskan mengkonsumsi sekurangnya empat jenis obat selama sekurangnya enam bulan. Tetapi di negara-negara yang sumber-sumber kesehatannya buruk, pengobatan secara penuh mungkin tidak tersedia. Dan jika si pasien hanya mengkonsumsi satu jenis obat TBC saja, maka bakteria-bakteria yang telah mmenjadi kebal terhadap obat tersebut akan bertahan dan berkembang biak. Sekarang para dokter berhadapan dengan tuberculosis yang resisten terhadap pelbagai antibiotik. Mengobati infeksi penyakit ini sampai sembuh bisa memakan waktu hingga dua tahun, dan obat-obatan second-line yang harus dikonsumsi mempunyai efek samping yang tidak menyenangkan.

“Kita tidak memiliki terlalu banyak obat-obat baru untuk mengobati tuberculosis,” kata Olano. “Penemuan besar yang terakhir ada pada akhir tahun 60-an.” Tuberculosis adalah salah satu penyakit yang menghadapi masalah seperti ini—sekarang terdapat serangkaian malaria yang juga resisten terhadap pelbagai obat, dan penyakit yang dulu mudah diobati seperti gonorrhea kini semakin sulit diobati. Tapi bagi banyak penyakit lainnya, keadaan seperti itu tidak berlaku.

Campak (Measles) 
Sebagian penyakit muncul lagi karena mereka menjadi resisten terhadap obat-obatan yang kita gunakan untuk mengobatinya. Sebagian penyakit lain bisa dicegah dengan mudah, namun akhirnya muncul kembali karena adanya gelombang ketakutan akan gerakan antivaksinasi yang baru.

Campak begitu menularnya sehingga jika Anda berada di dalam ruangan yang sama dengan penderita penyakit ini, ada kemungkinan 90 hingga 95 persen Anda akan tertular. Penyakit ini pernah menjadi sangat umum terdapat sehingga hampir semua orang mengalaminya pada usia 20. campak bisa jadi serius juga, khususnya bagi anak-anak dan orang tua (elderly) karena penyakit ini bisa menyebabkan tubuh mudah terkena pneumonia.

Vaksin campak mula diperkenalkan pada tahun 1963, dan jumlah penderita penyakit ini menurun dengan cepat hingga akhirnya musnah dari AS dan negara-negara berkembang lain. Namun beberapa tahun belakangan, sejumlah wabah kecil dengan jumlah penderita puluhan hingga ratusan mulai tumbuh kembali. Kebanyakan dimulai dari seorang anak yang orang tuanya menolak vaksinasi modern, MMR, yang juga melindungi dari penyakit gondok (mumps) dan rubella. Wabah yang berkembang ini menakutkan karena penyakit kanak-kanak seperti campak dan pertussis, atau batuk rejan (whooping cough), bisa mennyerang bukan hanya anak-anak yang belum diberi vaksinasi tetapi juga orang dewasa, khususnya orang dewasa yang lebih tua. Imunitas kita terhadap terhadap penyakit yang kita pernah diberi vaksin, kata Olano, mulai melemah ketika kita berusia sekitar 20. “Itulah sebabnya mengapa wabah penyakit ini bisa menjadi penyakit publik yang menakutkan.

Sebagian orang merasa takut bahwa vaksin campak dan penyakit kanak-kanak lainnya bisa menyebabkan autisme, sebuah ketakutan yang berakar dari sebuah paper penelitian yang kini sudah ditarik yang diterbitkan pada tahun 1968. “Analisis dalam paper tersebut menakutkan, datanya dimanipulasi, dan hubungan vaksin dengan autisme itu cuma dibuat-buat,” kata Olano. “Tapi sekarang tidak mungkin lagi kita bisa meyakinkan orang bahwa hubungan itu tidak ada.” Pelbagai studi sejak saat itu telah membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin dengan autisme. Namun rasa takut itu tetap ada, dan wabah campak kian meningkat.

Tipus (Typhoid) 
Para ilmuwan yang bekerja di rumah sakit di pusat kota Kathmandu, Nepal, baru-baru ini melakukan sebuah pendekatan baru untuk mencoba mengatasi penyakit yang kini marak kembali ini. Para peneliti menggunakan Google Maps untuk melacak wabah tipus di wilayah itu. Mereka menyambangi rumah setiap orang yang terkena penyakit ini dan memetakan lokasinya denga menggunakan GPS. Kemudian mereka menganalisis genotip(genotype) dari bakteri tifoid dari masing-masing pasien. Karena tipus, seperti halnya penyakit lainnya, berkembang sembari menyebar, maka para peneliti bisa menggunakan kombinasi pemetaan DNA dan pemetaan geografis untuk mengetahui dengan tepat bagaimana cara penyakit ini menyebar di antara penduduk.

Apa yang mereka temukan ternyata benar-benar mengejutkan. “Kepercayaan yang timbul adalah bahwa penyakit tersebut menular secara langsung dari orang ke orang,” kata Stephen Baker, penulis kepala dari studi yang diterbitkan di dalam Open Biology tersebut. Baker ketika itu menduga bahwa orang yang tinggal di dalam satu rumah atau yang mempunyai kontak langsung dengan satu sama lain akan menyandang penyakit tipus dari jenis yang sama. Tapi nyatanya tidak demikian, “keadaannya lebih acak,” katanya. Ini berarti bahwa penularan dari orang ke orang yang selama ini diperkirakan oleh para ilmuwan sebagai cara utama penyakit ini menyebar tidaklah begitu kritis (critical).

Tipus, yang berasal dari air yang tercemar oleh kotoran manusia yang terinfeksi, menyebar ke seluruh Eropa hingga pergantian abad ke-20. Ketika infrastruktur dan kesehatan publik membaik, dan kondisi lingkungan menjadi lebih sehat, penyakit ini berhasil dientaskan di sebagian besar Eropa dan AS. Namun pertumbuhan penduduk yang cepat di negara-negara berkembang mengakibatkan penduduk yang padat tinggal di daerah yang kondisi lingkungannya tidak higienis, sehingga kini tipus bisa menyerang 21,5 juta orang per tahun. “Apa yang terjadi adalah meski penyakit ini muncul kembali di wilayah-wilayah yang padat penduduk di Afrika Selatan, infrastrukturnya tidak bisa mengatasinya,” kata Baker. “Keadannya seperti menyiramkan minyak pada api.”

Karena para peneliti sekarang sudah tahu bahwa tipus menyebar secara hampir eksklusif melalui kontak dengan air yang tercemar—dan bukan dari orang ke orang—mereka sebaiknya memfokuskan resources untuk membersihkan wilayah-wilayah yang terinfeksi daripada mencoba menyebarkan vaksin. “Vaksin itu penting, namun hanya merupakan sebagian cara,” kata Baker. “Arti dari semua ini adalah bahwa investasi uang dalam jumlah yang besar untuk melakukan vaksinasi hanya akan bermanfaat jangka pendek, tidak akan mempunyai efek secara jangka panjang.”